Minggu, 18 Maret 2012

Craft Tour Story #2: Omunium

Jadi ingat sama Biblioholic :(

Tanggal 15 Maret, sebenarnya saya tidak menentukan akan ke mana-mana, jadwal kosong. Jadi Sheni mengajak saya ke Omunium, sekalian mencari buku kata Sheni. Tematnya tak jauh dari kosan, sebenarnya bias jalan kaki dari Gandok, Cuma karena jalanannya menanjak jadi bias bikin capek, akhirnya kami naik angkot bayar Rp 1000. Saya senang dengan tarif angkot di Bandung, sesuai jarak, semakin dekat semakin murah sewa angkotnya, hehehe.
Omunium tepat di depan Universitas Parahyangan, yang konon biaya kuliahnya paling mahal di Bandung. Tempatnya berbentuk ruko tepat di lantai dua. Suasananya keren, meski tidak begitu luas. Ada ruang khusus untuk sewa komik dan majalah, ada bagian rak yang isinya buku-buku murah baik dalam maupun luar negeri, terus ada rak sudut untuk craft-craft yang dijual, dan itu tidak asing bagi saya, rata-rata saya pernah mengunjungi blog pembuatnya. Makanya, meski saya tidak sempat bertemu crafter-nya, minimal saya bertemu karya-karyanya. 


Ada banyak,  Mogus-nya mas Moel, Vantiani, Salamatahari, Digital Pisang, pocketbook Vitarlenology, ada bantal desain His Hero His Demon juga,  Apa Namanya, pokoknya banyak deh. Saya membeli beberapa kartu pos Vantiani, mini pocketbook Kontemplancity, serta buku Peradaban Modern karya Larry Gonick seri 2 (buku yang sudah langka soalnya). Selain itu, Omunium juga menjual beberapa merchandise band, terus banyak pernak-pernik pajangan yang keren, seperti barang-barang hasil trashwork dan lukisan. Saya suka…



















Dari Omunium kami berjalan sedikit ke tempat minum jus yang disukai Sheni, kita bisa me-mix kan buah sesuka hati, weits… I love it. 

Lalu kembali ke Gandok berjalan kaki. Setelah itu menghabiskan malam dengan nongkrong bersama teman-teman Sheni, berkenalan dengan Ari, Choki, dan Kep. Anak-anak Bandung seru, mereka baik dan pastinya ramah. Oya, Kep sih bukan anak Bandung, dia juga anak Makassar, cuma saya baru kenal di Bandung. Kami menghabiskan malam di Camden, hmm…

Kamis, 15 Maret 2012

Craft Tour #1 : Jalan Otista dan sekitarnya

14 Maret 2012, saya bangun dari tidur pagi-pagi setelah semalaman mengatur jadwal serta ngobrol asyik sama Metal dan Tarna (teman baru) sambil menghangatkan tubuh dengan bir. Bandung dingin, sama seperti Toraja. Airnya sangat dingin, seperti air di Toraja juga hehehe.
Setelah mandi, kami sarapan Kupa Tahu serta kue-kue basah yang murah.  

perjalanan menuju kamar Dilla yang sejuk

Setelah itu, Saya dan Sheni mengantar Upi dan Nou ke kamar Dilla, temannya Sheni. Karena kosan Risma sempit, jadi yang muat cuma dua tamu. Dua orang lagi harus ke kosan Dilla yang juga sempit dan memang cuma muat dua tamu. Jadilah kami berpisah, dengan pembagian Saya sama Wana, dan Upi sama Nou karena mereka punya tujuan dan minat yang sama. Lagipula Nou juga teman Dilla, saya dan Wana belum kenal dengan Dilla.


Pas sampai kamar Dhila yang pemandangan kanan kirinya sejuk seperti bukan di kota, saya terperanjat (halah…). Kamarnya keren sekali, banyak pernak pernik lucu dan aish… lihat foto-fotonya saja deh. Pacar si Dhila, namanya Laras pernah kerja di Tobucil kata Sheni. Tapi sekarang kerja di Jakarta, cuma pulang saat weekend. Pajangan dindingnya semua hasil kerajinan tangan dikemas dengan sangat keren, gambar-gambarnya, tata letaknya, dan bingkai-bingkainya… hehehe… saya berlebihan yah? :p
Lalu perjalanan dimulai menuju jalan Tamim, pusat penjual kain kata Sheni. Bandung kan banyak pabrik textile. Saya membeli kain katun dengan motif kotak-kotak, harganya murah, Rp 18 ribu per meter. Nama tokonya Berkat Abadi Textile, sayangnya cuma jual motif kotak-kotak, tapi saya suka. 
 Sepanjang jalan Tamim, banyak toko kain euyy...


 Saya beli kain katun di sini

Lalu kami ke jalan Otista, membeli pita-pita dan kancing yang sudah lama kuidamkan tapi tidak kutemukan di Makassar. Nama tokonya Dunia Baru, letaknya pas di depan Golden Megah Corp. Kata Sheni ini juga toko yang menurutnya lebih murah, serta lengkap. Dan memang lengkap, saya cuma bisa ngiler lihat bahan dan perlengkapan craft di sana, asli lengkap dan unik-unik, sayangnya uang tak banyak. Huhuhu…
Sepanjang jalan Otista
 

Setelah itu kami menyeberang ke toko Oto Jaya, membeli mata itik dan paku centang. Dibandingkan yang ada di Makassar, mata itik di sini murah dan kualitasnya lebih bagus. Sedangkan paku centang, tidak ada dijual di Makasar.Lalu kami masih berkeliling sebentar menakan harga kain kaos, mencari manik kayu pesanan temanku, serta membandingkan harga kertas wafer yang motifnya cantik-cantik.   
Kami pun pulang ke kosan. capek keliling. Oya semua toko itu berdekatan dengan Pasar Baru Trade Center, yang kuanggap keramaiannya mirip Pasar Sentral Makassar. Kami cukup berjalan kaki untuk mendatangi semuanya.

Malamnya saya senang sekali pas tahu di samping kamar Risma, ada Alda yang ternyata juga suka merenda. Jadilah malam ini saya ngobrol tentang rajutan dan benang-benang. Senangnya…



Craft Tour: Menuju Bandung

@Bandara Sultan Hasanuddin

Yey, akhirnya tiba waktu yang ditunggu-tunggu selama kurang lebih empat bulan. Craft Tour dengan bekal tiket promo super murah yang dibelikan mamaku pun dimulai. Tiketnya seharga Rp 126ribu per satu kali penerbangan. Bulan November lalu saya bersama Sheni mem-booking empat tiket Merpati Airlines, buat Saya, Dia, Upi adikku, dan Wana. Kami membeli tiket dengan jalur penerbangan Makassar-Surabaya, terus dilanjutkan Surabaya-Bandung, karena menurut kami itu juga sudah lumayan murah.
Berangkatlah kami tanggal 12 Maret kemarin. Sheni diganti sama Nou karena dia sudah berangkat duluan ke Bandung bulan Februari. Perjalanan pun dimulai, Saya, Upi, Wana, dan Nou. Kami berangkat start dari pondokan Wana, diantar sama se-Genk Candra, Rafa, Ade, dan teman Nou si Ghost. Tentu saja awal yang menyenangkan karena se-Genk itu heboh, di bandara kita foto-foto bareng, main dorong-dorongan, sampai bergosip ria.
Penerbangan Makassar ke Surabaya tepat pukul 16.15 wita. Penerbangan dipercecpat, entah karena apa. Awalnya penerbangan pukul 7 malam. Saya jadi tidak sempat mengikuti perkuliahan hari senin, tapi sempat ke kampus bawa surat izin dan proposal untuk permohonan pembimbing skripsi. Lalu buru-buru pulang dan bersiap.
Ini kali ke-tiga saya naik pesawat terbang, saya selalu tidak nyaman karena telinga saya pasti selalu berdengung. Tapi selalu ada lagu yang siap menemani perjalanan melalui headset, jadi tidak begitu terasa-lah. Perjalanan satu jam lima belas menit, saya juga membaca jurnal Kontinum di pesawat, jadi cukup nyaman kali ini. Meski telinga tetap berdengung, hahhay.
 @Bandara Juanda 

Sampai di Surabaya kami langsung mencari tempat duduk nyaman. Keliling bandara hingga kami kelaparan. Karena tidak ada rencana meninggalkan bandara sampai penerbangan selanjutnya (yaitu besok sore) serta bajet yang kami persiapkan sangat terbatas, akhirnya kami mesti makan, minum, tidur di Bandara. Tentu saja untuk makan mesti mencari yang super hemat, pengalaman di mana-mana bandara, stasiun, atau terminal makanannya lebih mahal dibanding tempat lain. Sheni juga pernah cerita kalau dia pernah makan di bandara, harganya super mahal. Kami pun memilih makan di sebuah restoran cepat saja yang menyediakan paket murahRp 20ribu per porsi tanpa memesan minum, hehehe. Setelah makan buru-buru kami ke mini market yang cukup terkenal ada di mana-mana, membeli air mineral.
Kami harus menunggu 24 jam untuk penerbangan selanjutnya, bisa dibayangkan bertapa membosankannya menunggu? Yah… untung saja di Bandara Juanda disediakan tempat khusus untuk beristirahat, ada karpet untuk tidur dan ruangannya luaaaaaaas sekali di lantai 2. Kami pun gantian untuk terjaga sambil menjaga barang. Sesekali memesan kopi panas dan makan roti untuk bisa tetap melek dan tidak kelaparan. Sampai jam menunjukkan pukul 3 sore. Kami pun beres-beres dan bersiap untuk check in penerbangan Surabaya-Bandung. Tentunya tidak lupa mengisi botol-botol kami dengan air mineral yang disediakan di bandara. Pokoknya harus hemat hemat hemat…
Kali ini saya membaca buku Mitch Albom yang diberikan kak Aan sambil memutar lagu-lagu Adele. Telinga saya tidak lagi berdengung sampai mendarat, suatu kesyukuran. 
@Bandara Husein Sastranegara

Kami tiba di Bandung sekitar pukul 6 sore. Sheni ternyata sudah ada menunggu kami di depan, senangnya. Kami pun berjalan keluar bandara lalu naik angkot menuju Gandok, tempat kosan teman Sheni, namanya Risma. Si Risma adalah teman Sheni yang juga crafter, dia keren! Jago menjahit dan membuat baju-baju dengan tema gothic, sekarang di malah ada di Makassar. Jadi kamarnya kami tumpangi selama di sini. Namanya juga perjalanan super hemat, tidak ada bajet untuk sewa kamar apalagi hotel. Hehehe…
Saya menamai perjalananku kali ini Craft Tour karena memang tujuanku cuma itu, mau bertemu crafter yang selama ini kukenal lewat dunia maya, dan mau membeli bahan-bahan craft yang tidak ditemukan di Makassar.

Minggu, 11 Maret 2012

Merajut Pergerakan oleh Sartika Nasmar

Ini tulisan teman saya, Tika. Dia senang menulis, menari, dan kini senang merajut. Saya sangat senang membaca tulisannya ini, tulisan yang keren, semoga bermanfaat ;) Camane Craft!

SAYA bersemangat ketika tahu bahwa seorang teman yang baru saja saya kenal ternyata bisa merajut. Namanya Eka Wulandari, perempuan berkerudung, tinggi dan berkulit cokelat. Penampilannya sederhana, tenang dan berbicara lembut. Saya melihat akun facebook miliknya. Membuka album fotonya dan menyukainya. Ia sungguh kreatif.

Kami berkenalan di Kampung Buku, di Jalan Abdullah Daeng Sirua. Eka sering ke sana. Kami belum kenal dekat saat itu. Masih malu-malu. Hanya saling menyapa dengan senyuman.

Kampung Buku adalah tempat yang menyenangkan buat saya. Eko, pacar saya yang mengajak saya pertama kali berkunjung. Dan akhirnya keseringan. Orang-orang di sana, seperti keluarga baru bagi saya. Banyak cerita, tawa dan inspirasi.

Saya, Piyo dan Barak adalah peserta pertama belajar merajut yang diajarkan oleh Eka. Itu di bulan September 2011. Saat baru tiba di Kampung Buku sore hari, saya seperti tak percaya melihat benang bergulung-gulung dan warna-warni. Ini baru bagi saya dan teman-teman. Saya memilih warna merah marun, salah satu jenis warna merah tua dan dikenal dengan sebutan lain merah hati. Saya sengaja memilih warna ini, selain nyaman, merah marun adalah warna yang berkarakter kuat dan terkesan berani.

Benang bulky merah marun polos ada di tangan saya. Saya membelinya seharga Rp15.000,00 per gulung. Benang bulky merupakan salah benang rajut yang terbuat dari bahan wol dan akrilik. Ia berserat. Bagus untuk membuat syal atau tas. Benang ini juga bagus digunakan untuk perajut pemula karena tingkat ketebalan benangnya memudahkan untuk dirajut. Saya nyaman menggunakan nya.

Selain benang, Eka juga memberikan jarum rajut. Bentuknya panjang dan meruncing. Ukurannya bervariasi. Yang saya gunakan belajar adalah jarum rajut nomer 11. Terbuat dari bambu dan kedua ujungnya meruncing. Biasanya, ukuran jarum yang digunakan ditentukan dengan jenis benang yang akan kita rajut. Ukuran dan jenis benang akan menentukan jarak dari setiap tusukan. Semakin besar ukuran jarum yang digunakan, maka akan semakin besar lubang tusukan dan jaraknya. Begitu sebaliknya, semakin kecil ukuran jarum maka semakin kecil jarak dan lubang tususkan.

Rencana project pertama saya adalah membuat syal. Begitu bersemangat, saya, Barak dan Piyo berlatih di hari pertama. Piyo memilih benang bulky warna gradasi dan jarum rajut ukuran kecil 3,5 mm. Sedang Barak memilih benang bulky hitam polos.

Eka begitu sabar mengajar kami secara bergantian. Kami senang mendapatkan pengetahuan baru dan penuh kesabaran. Beberapa kali harus membongkar dan mengulangnya.

Untuk memulai rajutan, kita harus membuat slip knot atau simpul awal terlebih dahulu, lalu membuat cast on atau tusukan pertama. Dalam merajut (knitting) dasar, dikenal dua teknik tususkan yaitu knit dan purl. Knit adalah tusukan atas. Sedangkan purl adalah tusukan bawah. Kedua teknik ini merupakan bagian penting dalam merajut.

Beberapa minggu kemudian, kami hadir dalam pertemuan pertama belajar merajut bersama. Banyak yang datang. Tak seperti sebelumnya. Eka juga mengajak salah seorang temannya yang sudah lama menggeluti aktivitas merajut. Namanya Sheni. Berpenampilan layaknya anak punk. Rambutnya berwarna ungu. Ia cantik. Dan tutur katanya lembut. Sheni berasal dari Bandung. Ia dengan sukarela berbagi ilmu merajutnya.

Dan, ini menggembirakan untuk saya. Teman-teman yang hadir saat itu tak hanya mereka yang berjenis kelamin perempuan. Tapi, ada juga laki-laki.

BARACK Aziz Malinggi, merupakan salah satu perajut laki-laki di Makassar. Ia tak segan-segan menekuni hobi barunya meski merajut selalu diidentikkan sebagai kegiatan yang banyak dilakukan perempuan. Tak jarang ia ditertawakan. Tapi saya sungguh salut dengan kepiawaiannya merajut. Bahkan, seminggu yang lalu, ia membantu perempuan-perempuan di pulau dan mengajarkan mereka merajut.

Laki-laki dan merajut memiliki hubungan sejarah yang kaya. Mungkin banyak orang yang menganggap ini aneh. Di Amerika Selatan, banyak laki-laki yang melakukannya. Kebanyakan , perajut laki-laki pertama dilakukan oleh para penggembala dan nelayan. Bahkan, dalam sejarah Rusia setelah kekalahan The White Russians atau gerakan putih dalam perang saudara, banyak dari unit mereka mundur ke daerah Cina bersama kafilah Cina dengan menggunakan unta sebagai kendaraan mereka.Menurut Owen Lattimore, seorang penulis Amerika, menyebutkan bahwa di saat itu pulalah pasukan gerakan putih Rusia mulai menekuni seni merajut untuk keperluan mereka. Mereka merajut dengan menggunakan persediaan bulu unta dan hewan lainnya.

Dari hasil pengamatan Owen, para prajurit itu melakukan aktivitas merajutnya dalam perjalanan. Jika kehabisan benang, rambut unta akan menjadi benang rajut mereka. Dengan merajut, para laki-laki prajurit ini tidak hanya mensuplai kebutuhan sarung tangan, kaus kaki atau selimut mereka, namun juga untuk dijual.

Jesse, seorang ayah dua anak. Tinggal di daerah teluk San Fransisco, juga menekuni aktivitas merajutnya. Ia belajar melalui sebuah buku yang berjudul, I Can’t Believe I’m Knitting. Saat ini ia menjadi seorang designer rajut. Saya mengenalnya melalui website yang ia buat. www.yarnboy.com. Selain merajut, ia aktif menulis dan merawat dua anaknya.

Dalam sebuah artikel berjudul A Tale of Knitting yang ditulis oleh Helene Agerskov Madsen menulis bahwa merajut kemungkinan dilakukan di Timur Tengah pada awal abad pertama mesehi. Pada abad ini, katun dan sutra merupakan bahan pokok benang. Orang-orang Arab mulai belajar merajut setelah mereka berhasil menaklukkan Mesir. Mereka membuat permadani. Lalu menyebar ke Eropa. Sebelum abad pertengahan, teori merajut ini menjadi terkenal di Eropa Utara.

Pada abad 14, 15 dan 16, bahan-bahan rajutan dari wol belum dikenal. Saat itu, para perajut menggunakan bahan katun dan sutra impor hingga harga hasil rajutan mereka seperti stocking, kaus kaki, jaket dan kemeja sangat mahal. Hanya bisa dijangkau bagi mereka yang hidup kaya seperti keluarga kerajaan. Hingga secara bertahap, merajut mulai ditekuni oleh banyak orang dan menjadi kerajinan rakyat dan menciptakan kebutuhan mereka sendiri serta bisa dijangkau oleh siapa saja.

Pada masa Renaissance Eropa, laki-laki merajut sama baiknya dengan perempuan. Bahkan hanya laki-laki yang diizinkan untuk bergabung dalam serikat pengrajin rajutan. Di Inggris, rajutan menjadi sebuah industri rumahan. Dikerjakan oleh perempuan secara turun temurun. Bahkan menjadi kewajiban. Perempuan merajut untuk laki-laki selama berabad-abad meski pada perang dunia pertama dan kedua, merajut menjadi kewajiban setiap warga sipil di Inggris.

DI Indonesia, merajut diidentikkan sebagai aktivitas perempuan khususnya ditekuni oleh nenek atau ibu hamil meski pada sejarahnya aktivitas ini banyak dilakukan oleh laki-laki. Selain merajut, ada juga merenda (crochet) yang populer dan dikenal setelah orang-orang Belanda memperkenalkan aktivitas ini. Dulu, merajut lebih dikenal dengan sebutan breien. Sedang merenda dikenal dengan hakken.

Saat ini, komunitas pengrajin rajutan tersebar hampir di setiap kota. Memang, mayoritas dilakukan oleh perempuan. Tapi, bukan mutlak pekerjaan perempuan.

Saya ikut dalam sebuah komunitas pecinta dan pengrajin rajutan di Makassar. Setiap hari Minggu sore, anggota komunitas akan berkumpul dan belajar bersama. Hampir setiap pertemuan ada saja teman baru yang datang dan ingin belajar. Tapi, bagi yang sudah lama belajar, mereka akan membawa karya mereka di setiap pertemuan.

Komunitas perajut Makassar semakin bertambah setiap minggu. Anggota komunitas ini dalam akun grup di facebook saja sudah mencapai 101 orang. Barak, satu-satunya anggota laki-laki yang bertahan dan aktif setiap minggu.

Saya jarang datang di pertemuan mingguan. Saya lebih banyak menyimak dan berkenalan dengan anggota komunitas ini melalui facebook. Namun, bagi saya, merajut dan komunitas ini punya pengaruh positif dalam hidup saya. Merajut bukan hanya untuk menguji kreativitas dan kesabaran saja. Tapi, mengurangi tingkat konsumtif dan ini bisa menjadi terapi untuk mengatasi stres. Saya senang mengandaikan bahwa merajut adalah bentuk baru dari “yoga”.

PADA suatu malam, Piyo dan saya berdiskusi mengenai kondisi umum perempuan khususnya mereka yang telah menjadi ibu. Beban kerja dan tekanan banyak dialami oleh mereka. Tak sedikit yang mengalami stres. Tak banyak yang depresi hingga menganggap hidupnya tak berguna. Sekolah tinggi hingga sarjana, bekerja di kantor hingga akhirnya berujung pada dapur. Bisa saja, ketika seorang perempuan memilih untuk berada di ruang domestik adalah sebuah pilihan baginya. Namun, banyak pula terpaksa dan menaganggap itu sebuah kodrat.

Saya dan Piyo sepakat, komunitas perajut bisa dijadikan ruang untuk menjadikan perempuan lebih kuat, berdaya, mendapatkan keadilan dalam lingkup ekonomi, dan salah satu alternatif dalam mengatasi stres dan depresi. Merajut bahkan bisa dijadikan bagian dalam activism.

Saya membayangkan pembangunan komunitas perempuan melalui hobi yang sama adalah proses dimana satu sama lain bisa saling mendukung.

Merajut sebagai activism, pernah dipopulerkan oleh organisasi yang bernama Wombs on Washington (WOW). Mereka melakukan pergerakan dengan memanfaatkan keahlian merajut untuk mengkampanyekan isu hak-hak reproduksi perempuan, otoritas tubuh hingga pada penolakan batas-batas hukum aborsi di Amerika Serikat. Dua orang perempuan muda menyerukan kepada perajut-perajut lain untuk membuat miniatur rahim rajutan sebagai simbol untuk menentang campur tangan pemerintah terhadap otoritas tubuh perempuan. Bahkan pada tahun 2005, sejumlah perajut membentuk komunitas yang diberi nama Knit4Choice.

Komunitas merajut telah menjamur dan ada dimana saja. Mereka merajut, dengan tujuan masing-masing. Merajut bisa dilakukan oleh siapa saja. Laki-laki atau perempuan. Mereka punya ruang dan kreativitas yang bisa saja sama.

Sejak bisa merajut, saya selalu berpikir ketika melihat orang-orang menggunakan tas atau aksesorisnya saat berjalan. Bagi banyak orang mungkin gampang mendapatkan barang-barang di toko dengan pajak yang tinggi. Tapi, bagi saya dengan hobi baru yang sedang saya nikmati, saya bisa tenang.

“Jika saya dingin, dan membutuhkan syal, saya tak perlu membelinya di toko. Saya bisa membuatnya sendiri,” pikirku.

Dan, saya sedang berpikir untuk merajut pola rahim rajutan seperti yang dilakukan WoW. Kau tahu alasannya kenapa?

Untuk mengenang seorang perempuan yang tak saya kenal. Sehari sebelumnya, saya menunggu telfon darinya. Ia ingin melakukan konseling. Saat ini dia hamil enam bulan. Pasangannya tak mau bertanggung jawab. Ia diusir dari rumah. Saya masih menunggu telfonnya hingga hari ini. Lalu saya mendapat kabar, dia meninggal. Hari ini adalah ulang tahunnya. Hari ini juga Hari Perempuan Sedunia. Saya berduka. (Sartika Nasmar)

Kamis, 08 Maret 2012

Inspirasi buat Book's Mate from Aan ...Coming Soon...

 Beberapa hari lalu saya dikabari sama kak M Aan Mansyur bahwa ada buku yang ingin diberikan untuk saya dan pasti akan saya suka. Dengan penuh rasa penasaran saya pun ke kantor AcSI untuk menjawab rasa penasaran itu. Tadinya kukira untuk dipinjam, ternyata sepaket buku karya Mitch Albom itu untuk saya. Senaaaaaaaaaang sekali. Kak Aan ini paling tahu selera bacaan saya...terima kasih sangat kak An...

 
 Lalu dia menunjukkan beberapa hadia berkaitan dengan buku di hari ulangtahunnya kemarin. Dan tentu saja sangat ter-inspirasi untuk proyek Book's Mate ku... Notebook, Pembatas Buku Rajutan, Tote Bag dengan sampul-sampul buku terbaik sepanjang masa... Tunggu ya...

Bukan cuma itu, saya juga diberi dua buah bingkai foto, serta tote bag dari Ubud Writers Festival 2011... Ah kak Aan... you know me so well...hehehe... love you so much....