Kamis, 07 Mei 2015

Craft Tour : Toko Alat dan Bahan Kriya Favoritku di Makassar

Beberapa tahun terakhir, saya senang berkunjung ke satu kota ke kota lain. Mengunjungi toko-toko yang menyediakan bahan dan peralatan kriya yang ada di sana. Cerita mengenai perjalanan itu saya namai Craft Tour. Banyak kisah dan pengalaman yang seru ketika melakukannya. Rasanya seperti melakukan wisata kuliner atau wisata menyenangkan lainnya. Tentu saja, perjalanan semacam ini menjadi mengesankan jika kamu memiliki hobi kerajinan tangan. Saya seringkali mendapatkan pertanyaan, “kalau mau membeli bahan, di mana?”
Tempat membeli bahan kriya sebenarnya cukup banyak. Kita cukup beruntung, ada banyak toko yang menjual alat dan bahan kerajinan tangan di Makassar. Walaupun, tidak sebanyak toko di kota-kota lainnya. Seperti Bandung, kota yang saya gelari surga alat dan bahan kriya.
Berikut, beberapa toko favorit saya.
1. Toko Alfa
Toko Alfa
Lagi cari kain belacu? Toko Alfa tempatnya! (Foto: Eka Besse Wulandari)
Jika kamu ingin mencari aneka kain dengan pilihan motif beragam dan harga paling murah, saya merekomendasikan Toko Alfa. Letaknya di dalam kawasan ruko Pasar Sentral, bagian utara jalan K. H. Wahid Hasyim. Di sepanjang jalan tersebut, cukup banyak toko kain. Termasuk toko yang sudah lebih dulu dikenal, Toko Monalisa lama.
Toko Alfa 1
Mencari bermacam-macam motif kain dan harganya paling murah? Kamu bisa mengunjungi toko Alfa. (Foto: Eka Besse Wulandari)
Namun, tidak semua toko kain menjual kain belacu. Kain yang paling sering saya gunakan untuk membuat totebag. Hanya di Toko Alfa, saya dengan mudah menemukan kain belacu. Selain murah, pelayanan di toko Alfa juga bagus. Si empunya toko, sangat ramah kepada setiap pelanggan.
2. Toko Harapan
Toko Harapan
Lihat plang yang tulisannya sebagian hilang dan kusam itu? Ya, itu Toko Harapan! (Foto: Eka Besse Wulandari)
Untuk belanja alat dan bahan yang komplit dengan porsi besar, lebih baik ke toko Harapan. Toko yang besar dan selalu ramai. Cocok untuk pengrajin yang sudah menekuni karyanya dalam bentuk bisnis dan bukan satuan. Jika sedang ada pesanan membuat souvenir nikahan, saya memilih membeli bahan di Toko Harapan.
Letaknya juga di dalam kawasan ruko Sentral, tepatnya di bagian timur. Karena keadaannya yang besar dan selalu ramai, kamu harus punya kesabaran besar untuk dilayani oleh pegawainya. Satu pengunjung biasanya membeli barang lebih dari satu jenis. Kadangkala, kamu harus menunggu bersama 3-4 orang pengunjung lain di satu lemari pajangan. Saya sering menyiasati keadaan tersebut dengan mengobrol bersama pengunjung lain. Seringkali, saya menemukan informasi baru yang berhubungan dengan dunia jahit-menjahit.
Kekurangan dari toko ini adalah sistem pembayarannya. Pertama, Kamu akan mendapatkan nota setelah memilih barang. Lalu, setelah pembayaran di kasir selesai, kamu harus mengantri lagi ke bagian pengambilan barang. Cukup ribet, bukan?

3. Toko Singa Raja
Toko Singaraja
Toko Singa Raja terletak di jalan Timor. (Foto: Eka Besse Wulandari)
Toko Singa Raja termasuk toko yang masih baru. Saat saya ke sana, saya melihat banyak barang yang belum sempat dipajang. Tapi, “baru” juga bisa berarti saya baru menemukannya.
Berbagai jenis benang ada di sini. Harganya pun cukup murah. Pegawainya juga ramah. Kamu bisa berlama-lama memilih benang-benang yang menggiurkan, tanpa perlu khawatir ada yang marah. Bahkan, pegawainya sering melayani pelanggan sambil merekomendasikan barang yang baru dan lebih bagus.
Toko Singa Raja terletak di jalan Timor. Cukup mudah menemukannya, ada plang besar bagian atas toko. Kamu bisa melihatnya dari kejauhan.

4. Toko Ada
21717014_YiLE3TqniVdelt_oQst0G0WqFJvFL1thKqU8RIZksK4
Toko Ada, selalu ada untukmu :-p (Sumber Foto: Ichal. L )
Nama yang unik. Toko yang sering digunakan sebagai joke tempat membeli jodoh. Toko paling favorit saya. Mulai dari alat dan bahan sederhana seperti jarum, benang, aneka manik-manik, stud-spike, pita, sampai layang-layang pun ada. Menyediakan alat dan bahan dalam kemasan kecil. Sangat cocok untuk kamu yang senang membuat kalung, kreasi felt, sulam, atau bros dalam bentuk kecil dan satuan. Harganya pun relatif murah. Saya sering menjumpai banyak anak sekolah berbelanja alat dan bahan di Toko Ada. Kata mereka, untuk memenuhi keperluan pelajaran Keterampilan Tangan atau Kesenian (saya tidak tahu apa nama mata pelajaran itu di sekolah saat ini. dulu, namanya KTK).
Toko Ada, dikelola oleh satu keluarga—sepasang Suami-Istri pemilik toko dibantu oleh Anak, Menantu, dan satu orang (mungkin) saudaranya. Terakhir, saya melihat ada seorang pegawai baru yang saya yakin bukan dari anggota keluarga sebab wajah dan warna kulitnya berbeda. Entahlah.
Selain pelayanan yang memuaskan, interior toko juga sangat saya sukai. Desainnya tampak tua, di sekelilingnya ada lemari kaca. Di deretan lemari di bagian tengah, kamu bisa memilih dan mengambil sendiri. Semuanya terpajang.
Sumber foto: Friska Andri R.
Selain pelayanan yang memuaskan, interior toko juga sangat saya sukai. Desainnya tampak tua, di sekelilingnya ada lemari kaca. (Sumber foto: Friska Andri R. )
Untuk beberapa jenis kriya, kita bisa belajar menyulam di Toko Ada. Namun, saya sendiri belum pernah mencoba belajar di situ karena saya tidak melihat ada meja untuk pengunjung yang ingin belajar dan saya tidak nyaman belajar sambil berdiri.
Lokasinya yang ada di Jalan Gunung Latimojong, tepat di depan SD Tamamaung, menjadi salah satu alasan kamu layak memilih Toko Ada sebagai pilihan pertama. selain serba ada, kamu juga bisa naik angkot ke sana. Dari kampus Unhas, kamu naik pete-pete apapun menuju Sentral, turun di depan Bank Danamon yang berhadapan dengan Bambuden lalu berjalan kaki sedikit menuju toko. Pulangnya, cukup keluar dari toko dan menunggu pete-pete 05 untuk kembali ke kampus. Praktis!

5. Toko Astra Jaya
Meski namanya seperti toko peralatan motor, tapi percayalah toko Astra Jaya tetaplah toko yang menjual alat dan bahan kriya. Jika ingin membeli peralatan jahit, saya memilih Tokoh Astra Jaya dibandingkan dengan Toko Harapan. Sebab, harganya jauh lebih murah. Hanya saja, kurang lengkap dan lebih kecil. Meski demikian, selalu ramai dengan pengunjung.
Toko Astra Jaya adalah toko peralatan dan bahan kriya satu-satunya di kawasan Tamalanrea. Hal tersebut menjadikannya sebagai pilihan pertama bagi warga di kawasan timur kota. Sebab, terlalu jauh jika harus ke Sentral. Lokasinya sangat mudah ditemukan, cukup menggunakan pete-pete ke Tamalanrea, turun di depan Makassar Town Square (MToS). Toko Astra Jaya berada di jejeran ruko di depan-sebelah-kanan MToS.

6. Toko Makassar Alat Lukis
Peralatan dan bahan lukis juga sering kita butuhkan untuk membuat karya seni kriya. Terutama untuk pewarnaan. Sejak tahun 2012, saya “berkenalan” dengan Toko Makassar Alat Lukis. Harganya selalu lebih murah. Kamu juga bisa berkonsultasi sebelum membeli bahan dengan Anggi, pelukis sekaligus pemilik toko. Selain murah, peralatan dan bahan melukis di sini juga lengkap dengan kualitas yang bagus.
Letaknya di Jalan Veteran lorong 293 no.1. Lorong pertama  setelah perempatan Veteran-Sungai Saddang Baru. Tidak jauh dari pangkal lorong, di sebelah kiri kamu bisa melihat rumah dengan teras yang dihiasi lemari kaca berisi berbagai cat dan kuas. Anggi juga menyediakan nomor kontak di akun facebook Makassar Alat Lukis.

Selain toko Makassar Alat Lukis, semua toko di atas buka pukul 9 pagi sampai 6 sore. Dan beberapa tutup pada hari Minggu seperti Toko Astra Jaya dan Toko Ada.
Selamat berburu alat dan bahan, selamat berkarya, selamat berkriya!


Catatan : Tulisan ini sudah pernah dimuat di revius 







Minggu, 29 Maret 2015

Craft Tour : Kerajinan Khas Jambi



 
 


Hal pertama yang kucari tahu saat tiba di Jambi adalah apa kerajinan khas kota Jambi? 
Jawaban yang kudapat hanya satu : Batik Jambi. Tidak ada yang lain.

Mungkin karena kota Jambi ini sangat multikultural sehingga tak ada satu folklor yang menonjol. Suku di Jambi yang tertua adalah Melayu, kemudian di tahun 60-an pemerintah mengadakan program transmigrasi, suku Bugis, Jawa, dan Banjar banyak yang merantau hingga kini menetap di Jambi.

Sekilas batik Jambi sama saja dengan batik Jawa. Toh memang batik dibawa oleh orang Jawa ke Jambi. Yang membedakan adalah motifnya. Beberapa motif batik Jambi yang saya lihat adalah bergambar perahu adat Jambi dan gambar dua ekor angsa. Jambi dikenal sebagai kota Angso Duo karena konon sejarah adanya Jambi ini ditemukan ketika seorang pangeran keturunan Turki diberikan saran oleh sang Raja untuk berlabuh menemukan pasangan angsa yang ia lepas sepanjang sungai. Dan sang angsa yang dilepas berhenti dan menemukan pasangannya di kota Jambi. Ada banyak versi jga sebenarnya mengenai Angso Dua. Sila cari sendiri versi lainnya.

Untuk jenis kain batik Jambi juga sangat beragam ada katun, sutra, dan gabungan keduanya. Jika ingin menemukan batik lengkap dengan melihat cara pembuatannya, kamu bisa ke Seberang Kota Jambi (Sekoja). Di sana juga terkenal warganya masih menggunakan bahasa melayu lama. Saya tidak ingin mengakatakan suku asli berada di sana, sebab saya sampai sekarang masih tak mengerti akan definisi suku asli itu seperti apa?

Karena tidak sempat ke Seberang dan masih penasaran melihat wujud batik Jambi seperti apa, saya menyempatkan ke salah satu kelompok tenun yang ada di kota Jambi. Karena mamaku juga memesan oleh-oleh batik Jambi. Sampai di sana saya tak kaget ketika diberitahu bahwa harga kain batik per meter 500ribu. Saya memilih batik berwarna hitam bermotif putih gambar angsa. Setelah tawar menawar saya dikasi diskon jadinya saya hanya membayar 475ribu rupiah saja. Tapi saya ternyata lupa membawa uang, saya buru-buru permisi dan meminta Wanda, teman yang menemani saya mencari atm. Pemilik toko yang nampaknya sebelum saya datang sedang tidur siang, karena rumah sekaligus toko itu awalnya tertutup padahal bukan hari libur dan bukan jam istirahat saat kami ke sana.Saatsampi di atm, mamaku menelpon. Saya bilang kalau saya sedang mengambil uang untuk membeli batik dan mamaku tiba-tiba bilang tak usah beli batiknya, dia sedang mengincar batik model lain yang ada di Makassar.Ukh… saya jadi tak enak sama pemilik toko. Bagaimana nih Wanda? Kalau balik ke toko dan bilang batal belinya saya ndak enak juga. Setelah lama berpikir tentang perasaan tidak enak itu kami memutuskan tak kembali. Tetap dengan perasaan bersalah.Aduh serba salah. 

Craft Tour : Toko Alat dan Bahan Kriya di Jambi



Jadi saat di Jambi saya langsung menu desa purwodadi, jaraknya kurang lebih 3 jam naik mobil dari kota Jambi. Seminggu di sana saya berkeliling dan berkenalan dengan banyak teman baru. Membuat jadwal dengan kelompok ibu PKK, kelompok pemuda, dan anak SMA. Setelah seminggu dan mencari tahu di mana saja saya bisa membeli alat dan bahan untuk mendaur ulang, saya kembali ke kota Jambi. Sebenarnya ada banyak toko peralatan dan bahan untuk berkerajinan di Jambi hanya saja saya tidak sempat mengunjunginya semua. Dari hasil rekomendasi saya mendapat info bahwa toko di bawah inilah yang lumayan lengkap.

1.       Toko AM dekat Gloria.
Saya  tidak mengunjungi toko ini karena saat ingin parkir sangat padat. Sungguh kawasan perbelanjaan di kota Jambi ini luasnya bukan main. Karena menyambungkan antar banyak jalan. Pedagang berhamburan di jalanan sehingga beberapa titik hanya bisa dilalui dengan jalan kaki. Saat malam hari baru bisa dilalui dengan kendaraan dan sengat sepi. Oya di toko AM ini katanya pilihan kainnya cukup banyak, saya memilih tidak masuk juga karena saat itu saya tidak sedang ingin mencari kain. 

2.       Toko Benang Mas

 Suasanan di dalam toko Benang Mas
 
Lokasinya di depan Golden samping hotel Pundi Mas di dalam kawasan perbelanjaan depan terminal angkot. Saya tidak ingat nama jalannya karena kebanyakan di Jambi jika ingin bertanya tempat, nama jalan kadang tidak dapat dijadikan acuan hars tahu nama daerahnya dan apa penanda di dearah situ. Di Toko Benang Mas yang ini koleksi renda, pita, kancing nya lengkap dan beragam. Serasa ingin beli semua. Sayangnya harganya lebih mahal dibanding toko lain meski begitu toko ini tetap ramai.
Nah yang menyenangkan adalah toko ini bersampingan dengan toko buku bekas Hottong, kata seorang teman mungkin sisa itu toko buku bekas yang ada di Jambi. Dulu ada banyak. Harga komik bekasnya mulai dari 2000 rupiah loh. Saya sempat menemukan dua komik Yoko Shoji, lumayan bisa menambah koleksi. Sayangnya saya tidak bisa berlama-lama di sana karena sudah sore. Oya ada banyak majalah National Geographic bekas juga namun yang berbahasa inggris, harganya hanya 9000 per eksamplar.

3.       Toko Floris 


Lokasinya persis samping kiri terminal angkot. Dibanding toko Benang Mas untuk bahan seperti peniti bros di sini relatif murah. Dan sepertinya bulan lalu jenis kriya yang sedang tren adalah kreasi manik-manik. Di seluruh lemari toko ini nyaris dipenuhi oleh berbagai jenis manik atau mote-mote. Kerennya toko ini, kita bisa datang belajar membuat kreasi manik di sana. Jika toko sedang tidak ramai pembeli kamu akan diajarkan sampai selesai. Lagi-lagi saya tidak punya banak waktu padahal saya sangat ingin belajar satu jenis kreasi saja. Seingatk waktu SMA guru kesenian pernah mengajarkan itu di sekolah, saya pernah berhasil membuat boneka anjing mini. Tapi sekarang saya lupa caranya. Ada yang bisa mengajari saya?

Craft Tour Jambi : Ketinggalan Pesawat



Menunggu pesawat selanjuitnya sambil ngobrol dengan K
Seumur-umur saya tidak pernah menginginkan yang namanya mengalami peristiwa ketinggalan pesawat (memangnya ada yang mau?). Sialnya saya mengalaminya. Terlalu percaya diri tak akan terlambat karena rumahku sebenarnya tak jauh dari bandara. Saat akan di-booking-kan tiket saya meng-iyakan saat ditanya apakah saya bisa terbang jadwal pagi? Teramat pagi dan yes. Berbekal pengalaman naik pesawat yang baru beberapa kali, saya dengan santai saat bangun masih sempat masak lalu sarapan. Toh pesawatnya pasti ditunda, pikirku waktu itu. Apalagi maskapainya Lion hehehe… Sebab saya pernah harus menunggu nyaris empat jam karena cuaca yang katanya buruk menggunakan Lion. Jadwal di tiket pukul 5 pagi, saya berangkat dari rumah 4.30 wita. Karena sebenarnya jarak rumah dengan bandara hanya 15 menit. Pasti dapatlah meski pesawatnya tepat waktu tanpa penundaan. Ternyata hujan membuat beberapa titik macet padahal masih subuh, ukh!
Tiba di bandara saya langsung lemas saat mau check in dan katanya pesawatnya baru saja terbang. Apa yang harus saya lakukan? Dan saya baru sadar ini pengalaman pertamaku terbang seorang diri, tidak ada yang mengingatkan dan saya tidak peduli dengan peringatan di bagian bawah tiket bahwa “please arrive at the airport 90 minutes before flight bla bla bla…” Ya lagi-lagi menyalahkan pengalaman naik pesawat sebelumnya yang selalu ditunda dan menunggu. Lagipula kenapa pakai “important notes” segala sih? Kenapa bukan jadwal yang dicantumkan di tiketnya saja yang dimajukan 90 menit? Saya kan terpaku sama jadwal bagian atasnya. Ya ya ya… ini salah saya sendiri. Saya tidak bisa tenang sambil mengingat siapa temanku yang sudah bangun jam segitu dan kira-kira bisa meminjami saya uang membeli tiket baru? Dan terima kasih ada kak Nyomnyom yang berbaik hati mengangkat telepon serta mau ke atm pagi-pagi mengirimkan saya uang pembeli tiket baru. Fyuh.
Penerbangan selanjutnya pukul 10, berarti menunggu sekitar 3 jam lagi. Saya sebenarnya bisa membunuh waktu dengan membaca buku, mendengar musik, atau sekedar berkeliling di bandara Sultan Hasanuddin. Tapi saya memilih menghubungi Kurns, yang baru sampai rumah setelah mengantarku sebelumnya. Saya memintanya datang ke bandara lagi. Lumayanlah nobrol-ngobrol lama sebelum berpisah sebulan lamanya dengan pacar hehehe…
Hal yang membuat saya akhirnya cukup tenang karena jika mengobrol dengan Kurns pasti ada sesuatu yang baru yang ia ceritakan. Bukan bermaksud sombong atau apalah, tapi sungguh pacarku itu sangat rajin membaca, saya merasa sedang berpacaran dengan Google hehehe… apapun yang kutanyakan sedikit banyak pasti dia tahu, apalagi kalau soal sejarah dan musik? He is my favorite. Kurns bercerita, sejak ada pesawat terbang hingga kini hanya ada dua orang yang mampu mengembalikan pesawat setelah lepas landas. Mereka adalah Bill Gates dan seorang hacker bernama Kevin Mitnick (kalau tak salah). Kok bisa? Cari tahu sendiri lah yah hehehe… Saya takutnya kalau kepanjangan cerita kisah ini terlalu panjang. Oke? Atau hubungi saya secara langsung kalau benar-benar penasaran. ;)
Saya terbang dari Makassar ke Jakarta kurang lebih 2 jam setelah di Makassar pesawatnya ditunda 2 jam, see? Jadi jadwal pukul 10 ditunda sampai pkul 12. Tiba di Jakarta pukul 2 siang tapi di jam ku sudah pukul 3, saya lupa kalau sudah berbeda lokasi waktunya hihihi saya sempat panik takut kembali ketinggalan pesawat. Setelah semuanya beres dari pukul 4 agak lewat beberapa menit, saya tiba di Jambi nyaris pukul 6.
Jika diberi pilihan atau seandainya ini adalah perjalanan pribadi, saya sebenarnya ingin naik kapal laut saja. Saya tidak pernah merasa nyaman di atas pesawat sebab saya tidak tahan dingin dan duduk terlalu lama. Belum lagi telingaku tidak bisa bersahabat dengan pengaruh tekanan udara yang mengakibatkan dengungan yang sangat mengganggu, bahkan sakit. Mungkin agak seru jika mendapatkan teman duduk yang bisa diajak ngobrol. Tapi lebih sering saya dicueki saya ingin mulai berbasa-basi. 




Tiba di Jambi saya dijemput sama Bang Dul, Candra (teman nongkrong saat di Makassar yang besar di Jambi tapi sekarang kuliah di Jakarta)  dan pacarnya Shiela yang ampun gambar-gambarnya sangat keren.



Craft Tour : Jambi




Halo. Seperti janji saya pada postingan di instagram dengan hashtag #CraftTourJambi bahwa saya akan menuliskan lebih banyak kisah melalui blog ini. Dan inilah ceritaku selama satu bulan sepuluh hari di Jambi. Baru sempat menuliskannya setelah kembali ke Makassar karena saya tidak membawa laptop ke sana dan sebenarnya bisa saja saya nebeng mengetik tapi sumpah saya banyak melakukan hal yang sangat menyenangkan selama di sana sehingga mengetik kutunda saja. Hehehe…
Sebelum berpanjang lebar, saya akan menceritakan tentang “Why Jambi?”
Ya, kenapa Jambi? Kenapa bukan Medan atau Palembang? Dua kota yang lumayan besar di kepulauan Sumatera?
Jadi sebenarnya ini adalah keberuntungan saya. Beruntung rajin memposting apa saja yang saya lakukan seputar dunia kriya alias crafting. Teman yang sudah cukup lama tak bertemu, saya memanggilnya Bang Anto, ternyata selama ini cukup memperhatikan semua yang kuposting di sosial media. Maka diajaklah saya olehnya ketika di Mitra Aksi Foundation, LSM tempat ia bekerja ada program “Youth Environment”. Saya diminta menjadi fasilitator daur ulang di desa Purwodadi, kecamatan Tebing Tinggi, kabupaten Tanjung Jabung Barat, provinsi Jambi. Lengkap kan? Ya, siapa tahu saja kamu mau ke sana jalan-jalan. Nah, saya yang selama hidup tidak pernah membayangkan menginjak kota Jambi pun akhirnya sampai di sana. Tepat sehari setelah perayaan tahun baru 2015, tanggal 2 saya pun berangkat.