Minggu, 29 Maret 2015

Craft Tour : Kerajinan Khas Jambi



 
 


Hal pertama yang kucari tahu saat tiba di Jambi adalah apa kerajinan khas kota Jambi? 
Jawaban yang kudapat hanya satu : Batik Jambi. Tidak ada yang lain.

Mungkin karena kota Jambi ini sangat multikultural sehingga tak ada satu folklor yang menonjol. Suku di Jambi yang tertua adalah Melayu, kemudian di tahun 60-an pemerintah mengadakan program transmigrasi, suku Bugis, Jawa, dan Banjar banyak yang merantau hingga kini menetap di Jambi.

Sekilas batik Jambi sama saja dengan batik Jawa. Toh memang batik dibawa oleh orang Jawa ke Jambi. Yang membedakan adalah motifnya. Beberapa motif batik Jambi yang saya lihat adalah bergambar perahu adat Jambi dan gambar dua ekor angsa. Jambi dikenal sebagai kota Angso Duo karena konon sejarah adanya Jambi ini ditemukan ketika seorang pangeran keturunan Turki diberikan saran oleh sang Raja untuk berlabuh menemukan pasangan angsa yang ia lepas sepanjang sungai. Dan sang angsa yang dilepas berhenti dan menemukan pasangannya di kota Jambi. Ada banyak versi jga sebenarnya mengenai Angso Dua. Sila cari sendiri versi lainnya.

Untuk jenis kain batik Jambi juga sangat beragam ada katun, sutra, dan gabungan keduanya. Jika ingin menemukan batik lengkap dengan melihat cara pembuatannya, kamu bisa ke Seberang Kota Jambi (Sekoja). Di sana juga terkenal warganya masih menggunakan bahasa melayu lama. Saya tidak ingin mengakatakan suku asli berada di sana, sebab saya sampai sekarang masih tak mengerti akan definisi suku asli itu seperti apa?

Karena tidak sempat ke Seberang dan masih penasaran melihat wujud batik Jambi seperti apa, saya menyempatkan ke salah satu kelompok tenun yang ada di kota Jambi. Karena mamaku juga memesan oleh-oleh batik Jambi. Sampai di sana saya tak kaget ketika diberitahu bahwa harga kain batik per meter 500ribu. Saya memilih batik berwarna hitam bermotif putih gambar angsa. Setelah tawar menawar saya dikasi diskon jadinya saya hanya membayar 475ribu rupiah saja. Tapi saya ternyata lupa membawa uang, saya buru-buru permisi dan meminta Wanda, teman yang menemani saya mencari atm. Pemilik toko yang nampaknya sebelum saya datang sedang tidur siang, karena rumah sekaligus toko itu awalnya tertutup padahal bukan hari libur dan bukan jam istirahat saat kami ke sana.Saatsampi di atm, mamaku menelpon. Saya bilang kalau saya sedang mengambil uang untuk membeli batik dan mamaku tiba-tiba bilang tak usah beli batiknya, dia sedang mengincar batik model lain yang ada di Makassar.Ukh… saya jadi tak enak sama pemilik toko. Bagaimana nih Wanda? Kalau balik ke toko dan bilang batal belinya saya ndak enak juga. Setelah lama berpikir tentang perasaan tidak enak itu kami memutuskan tak kembali. Tetap dengan perasaan bersalah.Aduh serba salah. 

Craft Tour : Toko Alat dan Bahan Kriya di Jambi



Jadi saat di Jambi saya langsung menu desa purwodadi, jaraknya kurang lebih 3 jam naik mobil dari kota Jambi. Seminggu di sana saya berkeliling dan berkenalan dengan banyak teman baru. Membuat jadwal dengan kelompok ibu PKK, kelompok pemuda, dan anak SMA. Setelah seminggu dan mencari tahu di mana saja saya bisa membeli alat dan bahan untuk mendaur ulang, saya kembali ke kota Jambi. Sebenarnya ada banyak toko peralatan dan bahan untuk berkerajinan di Jambi hanya saja saya tidak sempat mengunjunginya semua. Dari hasil rekomendasi saya mendapat info bahwa toko di bawah inilah yang lumayan lengkap.

1.       Toko AM dekat Gloria.
Saya  tidak mengunjungi toko ini karena saat ingin parkir sangat padat. Sungguh kawasan perbelanjaan di kota Jambi ini luasnya bukan main. Karena menyambungkan antar banyak jalan. Pedagang berhamburan di jalanan sehingga beberapa titik hanya bisa dilalui dengan jalan kaki. Saat malam hari baru bisa dilalui dengan kendaraan dan sengat sepi. Oya di toko AM ini katanya pilihan kainnya cukup banyak, saya memilih tidak masuk juga karena saat itu saya tidak sedang ingin mencari kain. 

2.       Toko Benang Mas

 Suasanan di dalam toko Benang Mas
 
Lokasinya di depan Golden samping hotel Pundi Mas di dalam kawasan perbelanjaan depan terminal angkot. Saya tidak ingat nama jalannya karena kebanyakan di Jambi jika ingin bertanya tempat, nama jalan kadang tidak dapat dijadikan acuan hars tahu nama daerahnya dan apa penanda di dearah situ. Di Toko Benang Mas yang ini koleksi renda, pita, kancing nya lengkap dan beragam. Serasa ingin beli semua. Sayangnya harganya lebih mahal dibanding toko lain meski begitu toko ini tetap ramai.
Nah yang menyenangkan adalah toko ini bersampingan dengan toko buku bekas Hottong, kata seorang teman mungkin sisa itu toko buku bekas yang ada di Jambi. Dulu ada banyak. Harga komik bekasnya mulai dari 2000 rupiah loh. Saya sempat menemukan dua komik Yoko Shoji, lumayan bisa menambah koleksi. Sayangnya saya tidak bisa berlama-lama di sana karena sudah sore. Oya ada banyak majalah National Geographic bekas juga namun yang berbahasa inggris, harganya hanya 9000 per eksamplar.

3.       Toko Floris 


Lokasinya persis samping kiri terminal angkot. Dibanding toko Benang Mas untuk bahan seperti peniti bros di sini relatif murah. Dan sepertinya bulan lalu jenis kriya yang sedang tren adalah kreasi manik-manik. Di seluruh lemari toko ini nyaris dipenuhi oleh berbagai jenis manik atau mote-mote. Kerennya toko ini, kita bisa datang belajar membuat kreasi manik di sana. Jika toko sedang tidak ramai pembeli kamu akan diajarkan sampai selesai. Lagi-lagi saya tidak punya banak waktu padahal saya sangat ingin belajar satu jenis kreasi saja. Seingatk waktu SMA guru kesenian pernah mengajarkan itu di sekolah, saya pernah berhasil membuat boneka anjing mini. Tapi sekarang saya lupa caranya. Ada yang bisa mengajari saya?

Craft Tour Jambi : Ketinggalan Pesawat



Menunggu pesawat selanjuitnya sambil ngobrol dengan K
 
Seumur-umur saya tidak pernah menginginkan yang namanya mengalami peristiwa ketinggalan pesawat (memangnya ada yang mau?). Sialnya saya mengalaminya. Terlalu percaya diri tak akan terlambat karena rumahku sebenarnya tak jauh dari bandara. Saat akan di-booking-kan tiket saya meng-iyakan saat ditanya apakah saya bisa terbang jadwal pagi? Teramat pagi dan yes. Berbekal pengalaman naik pesawat yang baru beberapa kali, saya dengan santai saat bangun masih sempat masak lalu sarapan. Toh pesawatnya pasti ditunda, pikirku waktu itu. Apalagi maskapainya Lion hehehe… Sebab saya pernah harus menunggu nyaris empat jam karena cuaca yang katanya buruk menggunakan Lion. Jadwal di tiket pukul 5 pagi, saya berangkat dari rumah 4.30 wita. Karena sebenarnya jarak rumah dengan bandara hanya 15 menit. Pasti dapatlah meski pesawatnya tepat waktu tanpa penundaan. Ternyata hujan membuat beberapa titik macet padahal masih subuh, ukh!
Tiba di bandara saya langsung lemas saat mau check in dan katanya pesawatnya baru saja terbang. Apa yang harus saya lakukan? Dan saya baru sadar ini pengalaman pertamaku terbang seorang diri, tidak ada yang mengingatkan dan saya tidak peduli dengan peringatan di bagian bawah tiket bahwa “please arrive at the airport 90 minutes before flight bla bla bla…” Ya lagi-lagi menyalahkan pengalaman naik pesawat sebelumnya yang selalu ditunda dan menunggu. Lagipula kenapa pakai “important notes” segala sih? Kenapa bukan jadwal yang dicantumkan di tiketnya saja yang dimajukan 90 menit? Saya kan terpaku sama jadwal bagian atasnya. Ya ya ya… ini salah saya sendiri. Saya tidak bisa tenang sambil mengingat siapa temanku yang sudah bangun jam segitu dan kira-kira bisa meminjami saya uang membeli tiket baru? Dan terima kasih ada kak Nyomnyom yang berbaik hati mengangkat telepon serta mau ke atm pagi-pagi mengirimkan saya uang pembeli tiket baru. Fyuh.
Penerbangan selanjutnya pukul 10, berarti menunggu sekitar 3 jam lagi. Saya sebenarnya bisa membunuh waktu dengan membaca buku, mendengar musik, atau sekedar berkeliling di bandara Sultan Hasanuddin. Tapi saya memilih menghubungi Kurns, yang baru sampai rumah setelah mengantarku sebelumnya. Saya memintanya datang ke bandara lagi. Lumayanlah nobrol-ngobrol lama sebelum berpisah sebulan lamanya dengan pacar hehehe…
Hal yang membuat saya akhirnya cukup tenang karena jika mengobrol dengan Kurns pasti ada sesuatu yang baru yang ia ceritakan. Bukan bermaksud sombong atau apalah, tapi sungguh pacarku itu sangat rajin membaca, saya merasa sedang berpacaran dengan Google hehehe… apapun yang kutanyakan sedikit banyak pasti dia tahu, apalagi kalau soal sejarah dan musik? He is my favorite. Kurns bercerita, sejak ada pesawat terbang hingga kini hanya ada dua orang yang mampu mengembalikan pesawat setelah lepas landas. Mereka adalah Bill Gates dan seorang hacker bernama Kevin Mitnick (kalau tak salah). Kok bisa? Cari tahu sendiri lah yah hehehe… Saya takutnya kalau kepanjangan cerita kisah ini terlalu panjang. Oke? Atau hubungi saya secara langsung kalau benar-benar penasaran. ;)
Saya terbang dari Makassar ke Jakarta kurang lebih 2 jam setelah di Makassar pesawatnya ditunda 2 jam, see? Jadi jadwal pukul 10 ditunda sampai pkul 12. Tiba di Jakarta pukul 2 siang tapi di jam ku sudah pukul 3, saya lupa kalau sudah berbeda lokasi waktunya hihihi saya sempat panik takut kembali ketinggalan pesawat. Setelah semuanya beres dari pukul 4 agak lewat beberapa menit, saya tiba di Jambi nyaris pukul 6.
Jika diberi pilihan atau seandainya ini adalah perjalanan pribadi, saya sebenarnya ingin naik kapal laut saja. Saya tidak pernah merasa nyaman di atas pesawat sebab saya tidak tahan dingin dan duduk terlalu lama. Belum lagi telingaku tidak bisa bersahabat dengan pengaruh tekanan udara yang mengakibatkan dengungan yang sangat mengganggu, bahkan sakit. Mungkin agak seru jika mendapatkan teman duduk yang bisa diajak ngobrol. Tapi lebih sering saya dicueki saya ingin mulai berbasa-basi. 




Tiba di Jambi saya dijemput sama Bang Dul, Candra (teman nongkrong saat di Makassar yang besar di Jambi tapi sekarang kuliah di Jakarta)  dan pacarnya Shiela yang ampun gambar-gambarnya sangat keren.



Craft Tour : Jambi




Halo. Seperti janji saya pada postingan di instagram dengan hashtag #CraftTourJambi bahwa saya akan menuliskan lebih banyak kisah melalui blog ini. Dan inilah ceritaku selama satu bulan sepuluh hari di Jambi. Baru sempat menuliskannya setelah kembali ke Makassar karena saya tidak membawa laptop ke sana dan sebenarnya bisa saja saya nebeng mengetik tapi sumpah saya banyak melakukan hal yang sangat menyenangkan selama di sana sehingga mengetik kutunda saja. Hehehe…
Sebelum berpanjang lebar, saya akan menceritakan tentang “Why Jambi?”
Ya, kenapa Jambi? Kenapa bukan Medan atau Palembang? Dua kota yang lumayan besar di kepulauan Sumatera?
Jadi sebenarnya ini adalah keberuntungan saya. Beruntung rajin memposting apa saja yang saya lakukan seputar dunia kriya alias crafting. Teman yang sudah cukup lama tak bertemu, saya memanggilnya Bang Anto, ternyata selama ini cukup memperhatikan semua yang kuposting di sosial media. Maka diajaklah saya olehnya ketika di Mitra Aksi Foundation, LSM tempat ia bekerja ada program “Youth Environment”. Saya diminta menjadi fasilitator daur ulang di desa Purwodadi, kecamatan Tebing Tinggi, kabupaten Tanjung Jabung Barat, provinsi Jambi. Lengkap kan? Ya, siapa tahu saja kamu mau ke sana jalan-jalan. Nah, saya yang selama hidup tidak pernah membayangkan menginjak kota Jambi pun akhirnya sampai di sana. Tepat sehari setelah perayaan tahun baru 2015, tanggal 2 saya pun berangkat.