Senin, 20 Juli 2015

Natskinca ala Camane

Halo. Sudah lama saya ingin membagikan postingan ini. Namun saya menunggu sampai benar-benar saya mantap telah mencobanya dan yakin dengan pilihan ini. Sejak lama saya berusaha sedikit demi sedikit mengurangi ketergantungan terhadap segala sesuatu yang berbau kimia. Alasannya? Industri kimia yang banyak mengeluarkan limbah yang berbahaya bagi bumi. Selain itu ya memang juga tak baik untuk tubuh dan kulit kita, manusia.

Saya semakin tertarik mencari tahu dan mempraktekkan sedikit demi sedikit mengenai perawatan tubuh dengan bahan-bahan alami itu 2 tahun lalu tepatnya ketika teman couchsurfing saya Jana datang dari Slovakia pada tanggal 23 Juni 2013. Seperti biasa jika ada teman CS yang datang saya pasti selalu sempat menanyankan seluruh isi tas nya. Biasalah yah cewek cewek. Misalnya "eh kamu punya kuteks ndak? Coba dong."

Nah si Jana ini berbeda. Isi tas ya tak ada kosmetik. Saya memperhatikan tas untuk keperluan mandinya tak ada satupun label merek. Ternyata ia meracik sendiri semua kebutuhan perawatannya, shampo, pasta gigi, dan sabunnya. Wuih keren! Saya suka, saya suka!

Selanjutnya senang browsing sana-sini. Nah, daripada artikel tentang itu menumpuk saja, saya akhirnya membuat semacam kumpulan resep yang kubagi per kategori dan ku-print. Semoga tak ada halangan (terutama halangan rasa malas atau ngantuk) saya ingin membuat zine khusus untuk itu. Sementara saya bagi lewat postingan ini saja yah. Simak postingan selanjutnya!

Minggu, 19 Juli 2015

Tentang Pernikahan (Part 2) Dekorasi

Saya dibantu dengan teman-teman dari Botting Organizer (kumpulan teman-teman yang sudah tiga kali bersama mengorganisir pernikahan kami masing-masing) dan teman-teman di katakerja untuk menyiapkan segalanya. Mulai dari menggunting kertas berbentu love, membuat pompom dari kantorng kresek yang disiapkan sama teman-teman dari Mikipiji, dan meniup balon, membuat pajangan foto dari ranting pohon bekas tebangan tetangga, membuat obor, menggunting daun sebagai pengganti piring makan, dekorasi photobooth, dan semuanya. Saya memilih tema warna putih, biru, hitam karena itu warna favoritku :)

Pajangan foto kami

Madi (yang memakai topi) mengajak beberapa teman di Kosmik untuk terlibat sebagai tim dokumentasi. Video hasil editan mereka keren sekali... Ala ala royal wedding gitu deh hahaha... Tapi videonya oleh K dilarang di upload di media sosial beuh hehehe. 


Sani yang paling banyak sibuk sebagai kordinator dekorasi.

Tim Katakerja

Tim kawan-kawan Kodam 2 (hahaha saya tidak tahu menyebutnya apa yang jelas mereka adalah teman-teman yang sering menemani kami di rumah setiap malam) 

Saya senang semuanya ceria...

Papan dengan typographie ala ala buatan Randie Akbar, papannya yang biasa kamu lihat di katakerja hihihi. Saya senang karena pernikahan kami akhirnya tidak perlu banyak mengeluarkan dana karena banyak teman yang membantu kami meminjamkan banyak properti, termasuk sound system.

Wana dan Vivi, dua sahabat yang sudah ikut mempersiapkan beberapa hari sebelum hari H. Ikut begadang, angkat sana angkat sini. Suatu malam kami bertiga bikin acara semacam pesta melepas masa lajang sambil membuat souvenir nikahan. Paginya saya dan Vivi sakit kepala karena mabuk, mabuk ketawa. Hahaha...

Viny sang MC. Itu bingkai daftar nama tamu kami saat menikah. Jadi semua tamu menuliskan nama mereka di selembar kertas yang sudah Sani gunting berbentuk balon. Lalu ditempel di atas gambar batan Kurni. ceritanya itu gambar kami berdua naik ayunan. Hehehe...

Photobooth tepat di depan tenda, di samping teman kami mengantri isi buku tamu. Ada obor yang berjejer di depannya namun saya tidak menemukan foto obornya :(


Nah sebenarnya foto-foto di atas adalah foto dekorasi acara malam yang kubuat khusus untuk teman-teman. Untuk acara siang selepas akad nikah itu dekorasinya berbeda, ala pengantin Bugis pada umumnya. Kami juga memakai baju adat. Sengaja fotonya tidak kami posting karena aduh terlalu banyak. Jadi karena yang di atas didekor sendiri jadi lebih spesial untuk saya upload (pamer ceritanya).



Jumat, 03 Juli 2015

Tentang Pernikahan Amoraoiniji (part 1) Persiapan

Halo, akhirnya hampir setiap postingan saya di blog ini diawali dengan pembuka "maaf baru muncul lagi atau maaf baru sempat berbagi cerita lagi" hehehe. Ya begitulah keadaannya. Sejak laptop saya rusak dan sekarang mesti memakai PC di rumah tapi tetap merasa kurang klop kalau saya tidak menggunakan laptop sendiri buat bisa aktif memposting apa saja di blog. Entah kenapa itu sangat berpengaruh bagi saya.

Dan berita bagusnya adalah... saya sudah menikah (sekedar informasi saja buat yang belum tahu hehehe). Menikahnya tanggal 19 April 2015. Sebenarnya postingan mengenai pernikahan kami sudah pernah kubagikan tapi melalui akun instagram saya dengan hastag #tentangpernikahan rasanya lebih seru dan tentu saja lebih praktis ketika berbagi via instagram makanya mengisi blog kini jarang kulakukan. Tapi karena sudah dari awal berniat berbagi hal di sini maka saya harus meluangkan waktu, yip yip!

Okey mulai ceritanya yah...


Ini foto waktu lamaran. Saya tidak punya persiapan apa-apa karena tidak tahu kalau lamarannya pakai acara pemasangan cincin segala hehehe. Maka buru-burulah saya mencari bala bantuan, baju dan make up nya ditolong sama Viny, beruntung ada dia.



Saya dan Kurni dari awal sepakat bahwa pernikahan kami diadakan sesederhana mungkin. Setelah proses lamaran, tepatnya tanggal 4 Maret 2015 kami mulai disibukkan dengan membuat konsep pernikahan serta segala persiapannya. Ada dua hal besar yang kami buat bersama, undangan dan souvenir pernikahan.

Untuk undangan kami membuat dua jenis, untuk disebar kepada keluarga dan satunya untuk teman dan sahabat kami. Ada dua tanda penting yang kami bubuhkan di undangan dan pembungkus souvenir kami yakni cap jempol kami berdua dan gambar sepasang anak yang bermain ayunan. Gambar itu sebelumnya dibuat Kurni untuk perayaan 5 tahun kami bersama (tahun lalu) dalam bentuk stencil di atas kertas yang sangat besar.



Ini undangan untuk teman-teman kami






Kami dibantu oleh banyak teman untuk persiapan sampai pada hari H. Mulai dari memotong kertas undangan, membungkus souvenir, menyebarkan undangan, dan mempersiapkan dekorasi. Bahagianya memiliki mereka.

Ini foto sabun untuk souvenir pernikahan kami (cerita tentang ini akan kubagikan secara khusus di postingan lain)

Jumat, 08 Mei 2015

Craft Tour : Toko Alat dan Bahan Kriya Favoritku di Makassar

Beberapa tahun terakhir, saya senang berkunjung ke satu kota ke kota lain. Mengunjungi toko-toko yang menyediakan bahan dan peralatan kriya yang ada di sana. Cerita mengenai perjalanan itu saya namai Craft Tour. Banyak kisah dan pengalaman yang seru ketika melakukannya. Rasanya seperti melakukan wisata kuliner atau wisata menyenangkan lainnya. Tentu saja, perjalanan semacam ini menjadi mengesankan jika kamu memiliki hobi kerajinan tangan. Saya seringkali mendapatkan pertanyaan, “kalau mau membeli bahan, di mana?”
Tempat membeli bahan kriya sebenarnya cukup banyak. Kita cukup beruntung, ada banyak toko yang menjual alat dan bahan kerajinan tangan di Makassar. Walaupun, tidak sebanyak toko di kota-kota lainnya. Seperti Bandung, kota yang saya gelari surga alat dan bahan kriya.
Berikut, beberapa toko favorit saya di Makassar.

1. Toko Alfa
Toko Alfa

















Lagi cari kain belacu? Toko Alfa tempatnya! (Foto: Eka Besse Wulandari)

Jika kamu ingin mencari aneka kain dengan pilihan motif beragam dan harga paling murah, saya merekomendasikan Toko Alfa. Letaknya di dalam kawasan ruko Pasar Sentral, bagian utara jalan K. H. Wahid Hasyim. Di sepanjang jalan tersebut, cukup banyak toko kain. Termasuk toko yang sudah lebih dulu dikenal, Toko Monalisa lama.




Toko Alfa 1

















Mencari bermacam-macam motif kain dan harganya paling murah? Kamu bisa mengunjungi toko Alfa. (Foto: Eka Besse Wulandari)
Namun, tidak semua toko kain menjual kain belacu. Kain yang paling sering saya gunakan untuk membuat totebag. Hanya di Toko Alfa, saya dengan mudah menemukan kain belacu. Selain murah, pelayanan di toko Alfa juga bagus. Si empunya toko, sangat ramah kepada setiap pelanggan.


2. Toko Harapan
Toko Harapan
Lihat plang yang tulisannya sebagian hilang dan kusam itu? 
Ya, itu Toko Harapan! (Foto: Eka Besse Wulandari)


Untuk belanja alat dan bahan yang komplit dengan porsi besar, lebih baik ke toko Harapan. Toko yang besar dan selalu ramai. Cocok untuk pengrajin yang sudah menekuni karyanya dalam bentuk bisnis dan bukan satuan. Jika sedang ada pesanan membuat souvenir nikahan, saya memilih membeli bahan di Toko Harapan.
Letaknya juga di dalam kawasan ruko Sentral, tepatnya di bagian timur. Karena keadaannya yang besar dan selalu ramai, kamu harus punya kesabaran besar untuk dilayani oleh pegawainya. Satu pengunjung biasanya membeli barang lebih dari satu jenis. Kadangkala, kamu harus menunggu bersama 3-4 orang pengunjung lain di satu lemari pajangan. Saya sering menyiasati keadaan tersebut dengan mengobrol bersama pengunjung lain. Seringkali, saya menemukan informasi baru yang berhubungan dengan dunia jahit-menjahit.
Kekurangan dari toko ini adalah sistem pembayarannya. Pertama, Kamu akan mendapatkan nota setelah memilih barang. Lalu, setelah pembayaran di kasir selesai, kamu harus mengantri lagi ke bagian pengambilan barang. Cukup ribet, bukan?

3. Toko Singa Raja
Toko Singaraja
Toko Singa Raja terletak di jalan Timor. (Foto: Eka Besse Wulandari)

Toko Singa Raja termasuk toko yang masih baru. Saat saya ke sana, saya melihat banyak barang yang belum sempat dipajang. Tapi, “baru” juga bisa berarti saya baru menemukannya.
Berbagai jenis benang ada di sini. Harganya pun cukup murah. Pegawainya juga ramah. Kamu bisa berlama-lama memilih benang-benang yang menggiurkan, tanpa perlu khawatir ada yang marah. Bahkan, pegawainya sering melayani pelanggan sambil merekomendasikan barang yang baru dan lebih bagus.
Toko Singa Raja terletak di jalan Timor. Cukup mudah menemukannya, ada plang besar bagian atas toko. Kamu bisa melihatnya dari kejauhan.

4. Toko Ada
21717014_YiLE3TqniVdelt_oQst0G0WqFJvFL1thKqU8RIZksK4
Toko Ada, selalu ada untukmu :-p (Sumber Foto: Ichal. L )

Nama yang unik. Toko yang sering digunakan sebagai joke tempat membeli jodoh. Toko paling favorit saya. Mulai dari alat dan bahan sederhana seperti jarum, benang, aneka manik-manik, stud-spike, pita, sampai layang-layang pun ada. Menyediakan alat dan bahan dalam kemasan kecil. Sangat cocok untuk kamu yang senang membuat kalung, kreasi felt, sulam, atau bros dalam bentuk kecil dan satuan. Harganya pun relatif murah. Saya sering menjumpai banyak anak sekolah berbelanja alat dan bahan di Toko Ada. Kata mereka, untuk memenuhi keperluan pelajaran Keterampilan Tangan atau Kesenian (saya tidak tahu apa nama mata pelajaran itu di sekolah saat ini. dulu, namanya KTK).
Toko Ada, dikelola oleh satu keluarga—sepasang Suami-Istri pemilik toko dibantu oleh Anak, Menantu, dan satu orang (mungkin) saudaranya. Terakhir, saya melihat ada seorang pegawai baru yang saya yakin bukan dari anggota keluarga sebab wajah dan warna kulitnya berbeda. Entahlah.
Selain pelayanan yang memuaskan, interior toko juga sangat saya sukai. Desainnya tampak tua, di sekelilingnya ada lemari kaca. Di deretan lemari di bagian tengah, kamu bisa memilih dan mengambil sendiri. Semuanya terpajang.

Sumber foto: Friska Andri R.
Selain pelayanan yang memuaskan, interior toko juga sangat saya sukai. Desainnya tampak tua, di sekelilingnya ada lemari kaca. (Sumber foto: Friska Andri R. )

Untuk beberapa jenis kriya, kita bisa belajar menyulam di Toko Ada. Namun, saya sendiri belum pernah mencoba belajar di situ karena saya tidak melihat ada meja untuk pengunjung yang ingin belajar dan saya tidak nyaman belajar sambil berdiri.
Lokasinya yang ada di Jalan Gunung Latimojong, tepat di depan SD Tamamaung, menjadi salah satu alasan kamu layak memilih Toko Ada sebagai pilihan pertama. selain serba ada, kamu juga bisa naik angkot ke sana. Dari kampus Unhas, kamu naik pete-pete apapun menuju Sentral, turun di depan Bank Danamon yang berhadapan dengan Bambuden lalu berjalan kaki sedikit menuju toko. Pulangnya, cukup keluar dari toko dan menunggu pete-pete 05 untuk kembali ke kampus. Praktis!

5. Toko Astra Jaya
Meski namanya seperti toko peralatan motor, tapi percayalah toko Astra Jaya tetaplah toko yang menjual alat dan bahan kriya. Jika ingin membeli peralatan jahit, saya memilih Tokoh Astra Jaya dibandingkan dengan Toko Harapan. Sebab, harganya jauh lebih murah. Hanya saja, kurang lengkap dan lebih kecil. Meski demikian, selalu ramai dengan pengunjung.
Toko Astra Jaya adalah toko peralatan dan bahan kriya satu-satunya di kawasan Tamalanrea. Hal tersebut menjadikannya sebagai pilihan pertama bagi warga di kawasan timur kota. Sebab, terlalu jauh jika harus ke Sentral. Lokasinya sangat mudah ditemukan, cukup menggunakan pete-pete ke Tamalanrea, turun di depan Makassar Town Square (MToS). Toko Astra Jaya berada di jejeran ruko di depan-sebelah-kanan MToS.

6. Toko Makassar Alat Lukis
Peralatan dan bahan lukis juga sering kita butuhkan untuk membuat karya seni kriya. Terutama untuk pewarnaan. Sejak tahun 2012, saya “berkenalan” dengan Toko Makassar Alat Lukis. Harganya selalu lebih murah. Kamu juga bisa berkonsultasi sebelum membeli bahan dengan Anggi, pelukis sekaligus pemilik toko. Selain murah, peralatan dan bahan melukis di sini juga lengkap dengan kualitas yang bagus.
Letaknya di Jalan Veteran lorong 293 no.1. Lorong pertama  setelah perempatan Veteran-Sungai Saddang Baru. Tidak jauh dari pangkal lorong, di sebelah kiri kamu bisa melihat rumah dengan teras yang dihiasi lemari kaca berisi berbagai cat dan kuas. Anggi juga menyediakan nomor kontak di akun facebook Makassar Alat Lukis.

Selain toko Makassar Alat Lukis, semua toko di atas buka pukul 9 pagi sampai 6 sore. Dan beberapa tutup pada hari Minggu seperti Toko Astra Jaya dan Toko Ada.
Selamat berburu alat dan bahan, selamat berkarya, selamat berkriya!


Catatan : Tulisan ini sudah pernah dimuat di revius 







Senin, 30 Maret 2015

Craft Tour : Kerajinan Khas Jambi



 
 


Hal pertama yang kucari tahu saat tiba di Jambi adalah apa kerajinan khas kota Jambi? 
Jawaban yang kudapat hanya satu : Batik Jambi. Tidak ada yang lain.

Mungkin karena kota Jambi ini sangat multikultural sehingga tak ada satu folklor yang menonjol. Suku di Jambi yang tertua adalah Melayu, kemudian di tahun 60-an pemerintah mengadakan program transmigrasi, suku Bugis, Jawa, dan Banjar banyak yang merantau hingga kini menetap di Jambi.

Sekilas batik Jambi sama saja dengan batik Jawa. Toh memang batik dibawa oleh orang Jawa ke Jambi. Yang membedakan adalah motifnya. Beberapa motif batik Jambi yang saya lihat adalah bergambar perahu adat Jambi dan gambar dua ekor angsa. Jambi dikenal sebagai kota Angso Duo karena konon sejarah adanya Jambi ini ditemukan ketika seorang pangeran keturunan Turki diberikan saran oleh sang Raja untuk berlabuh menemukan pasangan angsa yang ia lepas sepanjang sungai. Dan sang angsa yang dilepas berhenti dan menemukan pasangannya di kota Jambi. Ada banyak versi jga sebenarnya mengenai Angso Dua. Sila cari sendiri versi lainnya.

Untuk jenis kain batik Jambi juga sangat beragam ada katun, sutra, dan gabungan keduanya. Jika ingin menemukan batik lengkap dengan melihat cara pembuatannya, kamu bisa ke Seberang Kota Jambi (Sekoja). Di sana juga terkenal warganya masih menggunakan bahasa melayu lama. Saya tidak ingin mengakatakan suku asli berada di sana, sebab saya sampai sekarang masih tak mengerti akan definisi suku asli itu seperti apa?

Karena tidak sempat ke Seberang dan masih penasaran melihat wujud batik Jambi seperti apa, saya menyempatkan ke salah satu kelompok tenun yang ada di kota Jambi. Karena mamaku juga memesan oleh-oleh batik Jambi. Sampai di sana saya tak kaget ketika diberitahu bahwa harga kain batik per meter 500ribu. Saya memilih batik berwarna hitam bermotif putih gambar angsa. Setelah tawar menawar saya dikasi diskon jadinya saya hanya membayar 475ribu rupiah saja. Tapi saya ternyata lupa membawa uang, saya buru-buru permisi dan meminta Wanda, teman yang menemani saya mencari atm. Pemilik toko yang nampaknya sebelum saya datang sedang tidur siang, karena rumah sekaligus toko itu awalnya tertutup padahal bukan hari libur dan bukan jam istirahat saat kami ke sana.Saatsampi di atm, mamaku menelpon. Saya bilang kalau saya sedang mengambil uang untuk membeli batik dan mamaku tiba-tiba bilang tak usah beli batiknya, dia sedang mengincar batik model lain yang ada di Makassar.Ukh… saya jadi tak enak sama pemilik toko. Bagaimana nih Wanda? Kalau balik ke toko dan bilang batal belinya saya ndak enak juga. Setelah lama berpikir tentang perasaan tidak enak itu kami memutuskan tak kembali. Tetap dengan perasaan bersalah.Aduh serba salah.