Minggu, 11 Maret 2012

Merajut Pergerakan oleh Sartika Nasmar

Ini tulisan teman saya, Tika. Dia senang menulis, menari, dan kini senang merajut. Saya sangat senang membaca tulisannya ini, tulisan yang keren, semoga bermanfaat ;) Camane Craft!

SAYA bersemangat ketika tahu bahwa seorang teman yang baru saja saya kenal ternyata bisa merajut. Namanya Eka Wulandari, perempuan berkerudung, tinggi dan berkulit cokelat. Penampilannya sederhana, tenang dan berbicara lembut. Saya melihat akun facebook miliknya. Membuka album fotonya dan menyukainya. Ia sungguh kreatif.

Kami berkenalan di Kampung Buku, di Jalan Abdullah Daeng Sirua. Eka sering ke sana. Kami belum kenal dekat saat itu. Masih malu-malu. Hanya saling menyapa dengan senyuman.

Kampung Buku adalah tempat yang menyenangkan buat saya. Eko, pacar saya yang mengajak saya pertama kali berkunjung. Dan akhirnya keseringan. Orang-orang di sana, seperti keluarga baru bagi saya. Banyak cerita, tawa dan inspirasi.

Saya, Piyo dan Barak adalah peserta pertama belajar merajut yang diajarkan oleh Eka. Itu di bulan September 2011. Saat baru tiba di Kampung Buku sore hari, saya seperti tak percaya melihat benang bergulung-gulung dan warna-warni. Ini baru bagi saya dan teman-teman. Saya memilih warna merah marun, salah satu jenis warna merah tua dan dikenal dengan sebutan lain merah hati. Saya sengaja memilih warna ini, selain nyaman, merah marun adalah warna yang berkarakter kuat dan terkesan berani.

Benang bulky merah marun polos ada di tangan saya. Saya membelinya seharga Rp15.000,00 per gulung. Benang bulky merupakan salah benang rajut yang terbuat dari bahan wol dan akrilik. Ia berserat. Bagus untuk membuat syal atau tas. Benang ini juga bagus digunakan untuk perajut pemula karena tingkat ketebalan benangnya memudahkan untuk dirajut. Saya nyaman menggunakan nya.

Selain benang, Eka juga memberikan jarum rajut. Bentuknya panjang dan meruncing. Ukurannya bervariasi. Yang saya gunakan belajar adalah jarum rajut nomer 11. Terbuat dari bambu dan kedua ujungnya meruncing. Biasanya, ukuran jarum yang digunakan ditentukan dengan jenis benang yang akan kita rajut. Ukuran dan jenis benang akan menentukan jarak dari setiap tusukan. Semakin besar ukuran jarum yang digunakan, maka akan semakin besar lubang tusukan dan jaraknya. Begitu sebaliknya, semakin kecil ukuran jarum maka semakin kecil jarak dan lubang tususkan.

Rencana project pertama saya adalah membuat syal. Begitu bersemangat, saya, Barak dan Piyo berlatih di hari pertama. Piyo memilih benang bulky warna gradasi dan jarum rajut ukuran kecil 3,5 mm. Sedang Barak memilih benang bulky hitam polos.

Eka begitu sabar mengajar kami secara bergantian. Kami senang mendapatkan pengetahuan baru dan penuh kesabaran. Beberapa kali harus membongkar dan mengulangnya.

Untuk memulai rajutan, kita harus membuat slip knot atau simpul awal terlebih dahulu, lalu membuat cast on atau tusukan pertama. Dalam merajut (knitting) dasar, dikenal dua teknik tususkan yaitu knit dan purl. Knit adalah tusukan atas. Sedangkan purl adalah tusukan bawah. Kedua teknik ini merupakan bagian penting dalam merajut.

Beberapa minggu kemudian, kami hadir dalam pertemuan pertama belajar merajut bersama. Banyak yang datang. Tak seperti sebelumnya. Eka juga mengajak salah seorang temannya yang sudah lama menggeluti aktivitas merajut. Namanya Sheni. Berpenampilan layaknya anak punk. Rambutnya berwarna ungu. Ia cantik. Dan tutur katanya lembut. Sheni berasal dari Bandung. Ia dengan sukarela berbagi ilmu merajutnya.

Dan, ini menggembirakan untuk saya. Teman-teman yang hadir saat itu tak hanya mereka yang berjenis kelamin perempuan. Tapi, ada juga laki-laki.

BARACK Aziz Malinggi, merupakan salah satu perajut laki-laki di Makassar. Ia tak segan-segan menekuni hobi barunya meski merajut selalu diidentikkan sebagai kegiatan yang banyak dilakukan perempuan. Tak jarang ia ditertawakan. Tapi saya sungguh salut dengan kepiawaiannya merajut. Bahkan, seminggu yang lalu, ia membantu perempuan-perempuan di pulau dan mengajarkan mereka merajut.

Laki-laki dan merajut memiliki hubungan sejarah yang kaya. Mungkin banyak orang yang menganggap ini aneh. Di Amerika Selatan, banyak laki-laki yang melakukannya. Kebanyakan , perajut laki-laki pertama dilakukan oleh para penggembala dan nelayan. Bahkan, dalam sejarah Rusia setelah kekalahan The White Russians atau gerakan putih dalam perang saudara, banyak dari unit mereka mundur ke daerah Cina bersama kafilah Cina dengan menggunakan unta sebagai kendaraan mereka.Menurut Owen Lattimore, seorang penulis Amerika, menyebutkan bahwa di saat itu pulalah pasukan gerakan putih Rusia mulai menekuni seni merajut untuk keperluan mereka. Mereka merajut dengan menggunakan persediaan bulu unta dan hewan lainnya.

Dari hasil pengamatan Owen, para prajurit itu melakukan aktivitas merajutnya dalam perjalanan. Jika kehabisan benang, rambut unta akan menjadi benang rajut mereka. Dengan merajut, para laki-laki prajurit ini tidak hanya mensuplai kebutuhan sarung tangan, kaus kaki atau selimut mereka, namun juga untuk dijual.

Jesse, seorang ayah dua anak. Tinggal di daerah teluk San Fransisco, juga menekuni aktivitas merajutnya. Ia belajar melalui sebuah buku yang berjudul, I Can’t Believe I’m Knitting. Saat ini ia menjadi seorang designer rajut. Saya mengenalnya melalui website yang ia buat. www.yarnboy.com. Selain merajut, ia aktif menulis dan merawat dua anaknya.

Dalam sebuah artikel berjudul A Tale of Knitting yang ditulis oleh Helene Agerskov Madsen menulis bahwa merajut kemungkinan dilakukan di Timur Tengah pada awal abad pertama mesehi. Pada abad ini, katun dan sutra merupakan bahan pokok benang. Orang-orang Arab mulai belajar merajut setelah mereka berhasil menaklukkan Mesir. Mereka membuat permadani. Lalu menyebar ke Eropa. Sebelum abad pertengahan, teori merajut ini menjadi terkenal di Eropa Utara.

Pada abad 14, 15 dan 16, bahan-bahan rajutan dari wol belum dikenal. Saat itu, para perajut menggunakan bahan katun dan sutra impor hingga harga hasil rajutan mereka seperti stocking, kaus kaki, jaket dan kemeja sangat mahal. Hanya bisa dijangkau bagi mereka yang hidup kaya seperti keluarga kerajaan. Hingga secara bertahap, merajut mulai ditekuni oleh banyak orang dan menjadi kerajinan rakyat dan menciptakan kebutuhan mereka sendiri serta bisa dijangkau oleh siapa saja.

Pada masa Renaissance Eropa, laki-laki merajut sama baiknya dengan perempuan. Bahkan hanya laki-laki yang diizinkan untuk bergabung dalam serikat pengrajin rajutan. Di Inggris, rajutan menjadi sebuah industri rumahan. Dikerjakan oleh perempuan secara turun temurun. Bahkan menjadi kewajiban. Perempuan merajut untuk laki-laki selama berabad-abad meski pada perang dunia pertama dan kedua, merajut menjadi kewajiban setiap warga sipil di Inggris.

DI Indonesia, merajut diidentikkan sebagai aktivitas perempuan khususnya ditekuni oleh nenek atau ibu hamil meski pada sejarahnya aktivitas ini banyak dilakukan oleh laki-laki. Selain merajut, ada juga merenda (crochet) yang populer dan dikenal setelah orang-orang Belanda memperkenalkan aktivitas ini. Dulu, merajut lebih dikenal dengan sebutan breien. Sedang merenda dikenal dengan hakken.

Saat ini, komunitas pengrajin rajutan tersebar hampir di setiap kota. Memang, mayoritas dilakukan oleh perempuan. Tapi, bukan mutlak pekerjaan perempuan.

Saya ikut dalam sebuah komunitas pecinta dan pengrajin rajutan di Makassar. Setiap hari Minggu sore, anggota komunitas akan berkumpul dan belajar bersama. Hampir setiap pertemuan ada saja teman baru yang datang dan ingin belajar. Tapi, bagi yang sudah lama belajar, mereka akan membawa karya mereka di setiap pertemuan.

Komunitas perajut Makassar semakin bertambah setiap minggu. Anggota komunitas ini dalam akun grup di facebook saja sudah mencapai 101 orang. Barak, satu-satunya anggota laki-laki yang bertahan dan aktif setiap minggu.

Saya jarang datang di pertemuan mingguan. Saya lebih banyak menyimak dan berkenalan dengan anggota komunitas ini melalui facebook. Namun, bagi saya, merajut dan komunitas ini punya pengaruh positif dalam hidup saya. Merajut bukan hanya untuk menguji kreativitas dan kesabaran saja. Tapi, mengurangi tingkat konsumtif dan ini bisa menjadi terapi untuk mengatasi stres. Saya senang mengandaikan bahwa merajut adalah bentuk baru dari “yoga”.

PADA suatu malam, Piyo dan saya berdiskusi mengenai kondisi umum perempuan khususnya mereka yang telah menjadi ibu. Beban kerja dan tekanan banyak dialami oleh mereka. Tak sedikit yang mengalami stres. Tak banyak yang depresi hingga menganggap hidupnya tak berguna. Sekolah tinggi hingga sarjana, bekerja di kantor hingga akhirnya berujung pada dapur. Bisa saja, ketika seorang perempuan memilih untuk berada di ruang domestik adalah sebuah pilihan baginya. Namun, banyak pula terpaksa dan menaganggap itu sebuah kodrat.

Saya dan Piyo sepakat, komunitas perajut bisa dijadikan ruang untuk menjadikan perempuan lebih kuat, berdaya, mendapatkan keadilan dalam lingkup ekonomi, dan salah satu alternatif dalam mengatasi stres dan depresi. Merajut bahkan bisa dijadikan bagian dalam activism.

Saya membayangkan pembangunan komunitas perempuan melalui hobi yang sama adalah proses dimana satu sama lain bisa saling mendukung.

Merajut sebagai activism, pernah dipopulerkan oleh organisasi yang bernama Wombs on Washington (WOW). Mereka melakukan pergerakan dengan memanfaatkan keahlian merajut untuk mengkampanyekan isu hak-hak reproduksi perempuan, otoritas tubuh hingga pada penolakan batas-batas hukum aborsi di Amerika Serikat. Dua orang perempuan muda menyerukan kepada perajut-perajut lain untuk membuat miniatur rahim rajutan sebagai simbol untuk menentang campur tangan pemerintah terhadap otoritas tubuh perempuan. Bahkan pada tahun 2005, sejumlah perajut membentuk komunitas yang diberi nama Knit4Choice.

Komunitas merajut telah menjamur dan ada dimana saja. Mereka merajut, dengan tujuan masing-masing. Merajut bisa dilakukan oleh siapa saja. Laki-laki atau perempuan. Mereka punya ruang dan kreativitas yang bisa saja sama.

Sejak bisa merajut, saya selalu berpikir ketika melihat orang-orang menggunakan tas atau aksesorisnya saat berjalan. Bagi banyak orang mungkin gampang mendapatkan barang-barang di toko dengan pajak yang tinggi. Tapi, bagi saya dengan hobi baru yang sedang saya nikmati, saya bisa tenang.

“Jika saya dingin, dan membutuhkan syal, saya tak perlu membelinya di toko. Saya bisa membuatnya sendiri,” pikirku.

Dan, saya sedang berpikir untuk merajut pola rahim rajutan seperti yang dilakukan WoW. Kau tahu alasannya kenapa?

Untuk mengenang seorang perempuan yang tak saya kenal. Sehari sebelumnya, saya menunggu telfon darinya. Ia ingin melakukan konseling. Saat ini dia hamil enam bulan. Pasangannya tak mau bertanggung jawab. Ia diusir dari rumah. Saya masih menunggu telfonnya hingga hari ini. Lalu saya mendapat kabar, dia meninggal. Hari ini adalah ulang tahunnya. Hari ini juga Hari Perempuan Sedunia. Saya berduka. (Sartika Nasmar)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Creativity and Share with love...